
Sejak 12 Juni 2025, WNI resmi masuk daftar 55 negara yang bisa menikmati fasilitas bebas visa transit 240 jam (10 hari) di China. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh National Immigration Administration (NIA) China dan menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam kebijakan perjalanan ke Negeri Tirai Bambu. Tapi sebelum langsung beli tiket, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami.
Apa Itu Bebas Visa Transit 240 Jam?

Ini bukan bebas visa turis biasa. Kebijakan ini khusus untuk transit, artinya, kamu harus memiliki tiket lanjutan ke negara ketiga, bukan kembali ke Indonesia. Selama memenuhi syarat, kamu bisa masuk China, keluar dari bandara, menjelajahi kota, menginap di hotel, bahkan berpindah provinsi, tanpa perlu mengurus visa apa pun sebelum berangkat.
Selama masa transit, aktivitas yang diizinkan meliputi wisata, kunjungan bisnis singkat, pertukaran budaya, dan kunjungan keluarga. Namun bekerja, belajar, dan peliputan jurnalistik tetap memerlukan visa tersendiri.
Syarat yang Wajib Dipenuhi

Meskipun tidak perlu visa, ada persyaratan ketat yang harus dipenuhi agar bisa memanfaatkan fasilitas ini:
-
Paspor Indonesia yang masih berlaku minimal 3 bulan dari tanggal masuk ke China
-
Tiket lanjutan terkonfirmasi ke negara ketiga — bukan tiket pulang ke Indonesia — dengan tanggal dan nomor kursi yang sudah pasti
-
Masuk dan keluar melalui salah satu dari 65 pelabuhan resmi yang tersebar di 24 provinsi
-
Tidak memiliki catatan kriminal atau pelanggaran imigrasi dalam 5 tahun terakhir
-
Tidak pernah melanggar aturan registrasi akomodasi di China dalam 2 tahun terakhir
Tiket negara ketiga ini adalah syarat mutlak. Tanpa tiket onward flight yang sudah dikonfirmasi, kamu bisa ditolak boarding atau ditolak masuk oleh petugas imigrasi China.
Cara Menghitung 240 Jam

Ini detail yang sering salah dipahami. Masa 240 jam tidak dihitung sejak pesawat mendarat, melainkan mulai pukul 00:00 pada hari berikutnya setelah kedatangan. Misalnya, kamu tiba di Beijing pada 1 Juli pukul 10.00 pagi, maka masa transit dimulai pada 2 Juli pukul 00.00 dan berakhir pada 11 Juli pukul 23.59.
Kamu harus sudah keluar dari wilayah China sebelum batas waktu itu berakhir.
Kota dan Bandara yang Mendukung Kebijakan Ini

Sejak November 2025, jumlah pelabuhan yang mendukung kebijakan ini bertambah menjadi 65 titik masuk di 24 provinsi. Beberapa kota besar yang bisa dijadikan titik transit:
Beijing — Sejarah dan Budaya di Ibu Kota
Tersedia dua bandara: Beijing Capital International Airport (PEK) dan Beijing Daxing International Airport (PKX). Dari sini kamu bisa mengunjungi Forbidden City, Temple of Heaven, dan tentu saja Great Wall of China yang legendaris.
Shanghai — Kota Metropolitan yang Tak Pernah Tidur
Dua bandara tersedia: Pudong (PVG) dan Hongqiao (SHA). Shanghai menawarkan perpaduan arsitektur kolonial di The Bund, distrik keuangan modern Lujiazui, hingga kawasan kuliner dan belanja yang lengkap.
Guangzhou & Shenzhen — Gerbang Asia Tenggara
Masuk melalui Bandara Internasional Guangzhou Baiyun atau Bandara Shenzhen Bao'an. Area Guangdong menawarkan kuliner Kanton autentik, Canton Tower, dan Shenzhen yang dikenal sebagai kota teknologi paling inovatif di China.
Chengdu — Rumah Panda Raksasa
Masuk via Bandara Internasional Chengdu Tianfu. Kamu bisa mengunjungi Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding, mencicipi masakan pedas khas Sichuan, hingga berwisata ke Patung Buddha Raksasa Leshan yang hanya dua jam jauhnya.
Xi'an — Kota Pasukan Terakota
Masuk via Bandara Internasional Xi'an Xianyang. Tersedia akses ke Terracotta Army yang terkenal di dunia, tembok kota kuno yang masih berdiri kokoh, dan Muslim Quarter yang ramai.
Strategi Beli Tiket untuk Memanfaatkan Fasilitas Ini
Ini bagian yang sering membingungkan. Ada dua cara utama untuk menyiapkan tiket yang memenuhi syarat:
Opsi 1 — Multi-city booking: Pesan tiket dalam satu transaksi dengan rute misalnya Jakarta → Shanghai → Tokyo. Banyak aplikasi pemesanan tiket mendukung format ini.
Opsi 2 — Tiket terpisah: Beli tiket Jakarta–Beijing secara terpisah, lalu beli tiket Beijing–Bangkok atau Shanghai–Singapura sebagai tiket kedua. Ini lebih fleksibel secara harga, tapi pastikan tiket kedua sudah punya tanggal dan nomor kursi yang fixed.
Saat check-in di bandara asal, informasikan ke petugas maskapai bahwa kamu ingin menggunakan fasilitas Transit Without Visa (TWOV). Begitu tiba di China, langsung menuju loket imigrasi khusus TWOV sambil menunjukkan paspor dan tiket lanjutan.
Apa Saja yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan

Selama masa transit bebas visa, ada batasan wilayah yang berlaku:
-
Kamu hanya boleh beraktivitas di wilayah yang sesuai dengan bandara masuk. Misalnya, masuk melalui Shanghai hanya mengizinkan kamu beraktivitas di Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang.
-
Kamu tidak boleh terbang ke kota lain di luar zona yang ditentukan
-
Jika menginap di hotel, hotel akan otomatis melaporkan keberadaanmu ke otoritas setempat. Jika menginap di tempat lain (rumah teman, Airbnb), kamu wajib lapor manual ke kantor Public Security Bureau (PSB) dalam 24 jam
Kapan Tetap Perlu Visa China Reguler?
Fasilitas ini tidak menggantikan visa China sepenuhnya. Ada beberapa situasi di mana visa tetap diperlukan:
-
Kunjungan wisata penuh tanpa tiket ke negara ketiga
-
Perjalanan bisnis, studi, atau bekerja di China
-
Durasi tinggal lebih dari 10 hari
-
Memasuki kota yang tidak termasuk dalam jaringan 65 pelabuhan resmi
Bagi yang ingin tahu lebih lengkap tentang jenis-jenis visa China, prosesnya, dan berapa biayanya, semua informasi itu tersedia secara detail, mulai dari Visa L untuk turis, Visa M untuk bisnis, hingga visa studi, semuanya punya syarat dan biaya yang berbeda-beda yang perlu dipahami sebelum mengajukan.
Sebagai gambaran, biaya visa China reguler (Single Entry) untuk WNI saat ini mulai dari sekitar Rp 840.000 untuk proses standar (4–5 hari kerja), atau Rp 1,7 juta untuk layanan one-day service. Pengajuan dilakukan melalui Chinese Visa Application Service Center (CVASC) yang tersedia di Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya.
Tips Praktis Sebelum Berangkat
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar transit berjalan lancar:
-
Print tiket lanjutan, petugas imigrasi China kadang meminta bukti fisik, bukan hanya e-ticket di ponsel
-
Siapkan bukti akomodasi (konfirmasi hotel) meskipun tidak wajib, ini membantu proses pemeriksaan imigrasi
-
Daftarkan kartu internasional ke Alipay atau WeChat Pay sebelum berangkat, karena sebagian besar transaksi di China menggunakan dua platform ini
-
Unduh peta offline karena Google Maps tidak dapat diakses di China, gunakan Baidu Maps atau Apple Maps
-
Cek kembali kebijakan terbaru melalui situs resmi National Immigration Administration China di nia.gov.cn atau Kedutaan Besar China di Indonesia sebelum keberangkatan, karena ketentuan bisa berubah sewaktu-waktu
Kesimpulan
Kebijakan bebas visa transit 240 jam membuka peluang baru bagi WNI untuk menjelajahi China secara singkat. tanpa perlu mengurus visa, tanpa antre di kedutaan, dan tanpa biaya tambahan. Kuncinya satu: pastikan ada tiket lanjutan ke negara ketiga dan semua dokumen sudah siap. Dengan perencanaan yang matang, 10 hari di China bisa jadi petualangan tersendiri, bahkan sebelum sampai ke destinasi utama perjalananmu.